Hidros

Loading...

Foto Sliding

Loading...

Hell

Hell

Cari Di Sini

Memuat...

Rabu, 27 Januari 2010

makalah tsunami

LEMBAR PERSETUJUAN

SEBAB TIMBULNYA
GELOMBANG TSUNAMI
YANG MENDERA MASYARAKAT ACEH





















KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, saya panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesempatan kepada penulis agar dapat menyelesaikan paper yang berjudul “SEBAB TIMBULNYA GELOMBANG TSUNAMI YANG MENDERA MASYARAKAT ACEH”. Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti UN (Ujian Nasional) di Madrasah Aliyah Manba’ul Hikam.
Saya sebagai penulis sangat menyadari bahwa dalam menyelesaikan paper ini masih jauh dari kesempurnaan dan kekurangan karena keterbatasan data dan pengetahuan penulis. Oleh karena itu, dengan rendah hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari kalangan pembimbing untuk kesempurnaan paper ini.












DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
LEMBAR PERSETUJUAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv

BAB I : PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Rumusan Masalah 2
1.3. Tujuan dan Manfaat 3
1.4. Metode 3
1.5. Sistematika Pembahasan 3

BAB II : KAJIAN TEORI 5
2.1. Definisi Tsunami 5
2.2. Penyebab Gelombang Tsunami 6
2.3. Potensi Tsunami di Indonesia 9
2.4. Korban Jiwa 11
2.5. Dampak Tsunami di NTB 13

BAB III : PENYAJIAN DATA 15
3.1. Penyajian Data dan Analisis 15
3.2. Pemecahan Masalah 16

BAB IV : PENUTUP 19
4.1. Kesimpulan dan Saran 19
4.2. Penutup 20

DAFTAR PUSTAKA 21

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Gempa bumi dan tsunami, 26 Desember 2004, yang menimpa Aceh dan telah menyebabkan hampir 230.000 penduduk meninggal dunia dan 600.000 penduduk kehilangan tempat tinggal. Sebanyak 1.644 kantor pemerintah, 270 pasar, 239 pertokoan hancur, 2.732 tempat peribadatan rusak, lebih dari 1.151 sekolah dan pesantren, 33 rumah sakit dan rumah bersalin musnah, 58 Puskesmas dan poliklinik ikut hancur. Diperkirakan 82% jalan dan 499 jembatan mengalami rusak total, berikut 49 pelabuhan. Kerugian material yang diakibatkan bencana ini ditaksir hampir ratusan trilyun rupiah. Banyak sarana-sarana transportasi, komunikasi dan infrastruktur lainnya hancur ditelan gelombang air pasang ini. Kota yang dulunya dipadati oleh rumah-rumah penduduk, bangunan batu, kini hampir rata dengan tanah. Ratusan ribu nyawa melayang, dalam waktu sekejap mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan dan dibiarkan membusuk tanpa ada yang merawatnya. Bencana ini kini tidak saja dirasakan oleh mereka yang terkena langsung, tetapi dirasakan oleh segenap masyarakat dunia.
Ketika tsunami melanda wilayah Aceh dan Nias pada tanggal 26 Desember 2004 lalu, lebih dari dua ratus ribu jiwa meninggal dunia dan dinyatakan hilang. Namun di pulau Simeulue, salah satu daerah yang juga dilanda tsunami dan berada dekat pusat gempa, jumlah korban yang jatuh relatif sedikit. Beberapa sumber menyebutkan bahwa korban meninggal dunia sebanyak 7 orang. Suatu jumlah yang tidak signifikan dibandingkan dengan jumlah penduduk pulau Simeulue yang pada saat itu sebanyak 78.128 jiwa (Juni 2005) yang sebagian besar bermukim di wilayah pantai, sedikit jumlah korban meninggal akibat tsunami di pulau Simeulue ditafsirkan karena beberapa hal yaitu :
a. Sebagai kuasa Tuhan
b. Adanya kearifan lokal, dan
c. Topografi wilayah
Prinsip masyarakat Aceh dan Simeulue yang sangat agamis seringkali mengkaitkan berbagai peristiwa di dunia ini dengan aspek ketuhanan, sehingga peristiwa tsunami juga dianggap sebagai bagian dari cobaan terhadap keimanan manusia. Alasan kedua, adanya suatu “kearifan” lokal dalam bentuk cerita turun temurun tentang peristiwa tsunami yang pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya. Salah satu nilai kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Simeulue adalah apabila terjadi suatu gempa kuat yang diiringi dengan surutnya air laut, maka masyarakat harus naik ke wilayah yang lebih tinggi. Kondisi topografi wilayah di sebagian besar permukiman di pulau Simeulue yang berbukit-bukit juga memudahkan masyarakat untuk segera menyelamatkan diri.
Dari penjelasan di atas, maka penulis dapat menarik sebuah judul yaitu “SEBAB TIMBULNYA GELOMBANG TSUNAMI YANG MENDERA MASYARAKAT ACEH” yang akan dibahas lebih lanjut dalam paper ini.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas tentang “SEBAB TIMBULNYA GELOMBANG TSUNAMI YANG MENDERA MASYARAKAT ACEH” maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
a. Apa yang dimaksud tsunami ?
b. Apa penyebab terjadinya tsunami ?
c. Bagaimana sistem peringatan dini tsunami di Indonesia ?

1.3 Tujuan dan Manfaat
Dari penulisan paper di atas tujuan dan manfaat paper ini adalah :
a. Sebagai syarat untuk mengikuti ujian Nasional
b. Untuk mengetahui apa yang dimaksud tsunami
c. Untuk mengetahui penyebab terjadinya tsunami
d. Sistem peringatan dini saat terjadi tsunami

1.4 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kepustakaan. Pemilihan metode ini karena penelitian yang dilakukan ditujukan untuk mengidentifikasi sebab timbulnya gelombang tsunami yang mendera masyarakat aceh mengacu pada literatur, artikel-artikel dan sumber bacaan lain.

1.5 Sistematika Pembahasan
Sistematika dalam penulisan paper ini terbagi dalam empat bab. Pembagian penulisan dalam paper ini untuk memudahkan penulis dalam menyusun hasil penelaahan terhadap permasalahan yang ada. Dan sistematika penulisan paper ini dapat diuraikan sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini secara garis besar memuat hal-hal yang bersangkutan dengan gambaran umum mengenai sebab timbulnya gelombang tsunami yang mendera masyarakat Aceh.
BAB II KAJIAN TEORI
Dalam bab ini akan diuraikan mengenai definisi gelombang tsunami, penyebab, serta penyelamatan dini.

BAB III PENYAJIAN DATA, ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH
Dalam bab ini akan disajikan data-data hasil penelitian, di samping itu juga analisis penyebab tsunami beserta permasalahannya.
BAB IV PENUTUP
Dalam bab ini memuat pokok-pokok hasil pembahasan dari Bab II dan III.

BAB II
KAJIAN TEORI


2.1 Definisi Tsunami
Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang tsu artinya pelabuhan dan nami artinya gelombang laut. Secara harfiah berarti “ombak besar di pelabuhan”, adalah sebuah ombak yang terjadi setelah sebuah gempa bumi, gempa laut, gunung berapi meletus atau hantaman meteor di laut. Tenaga setiap tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Dengan itu, apabila gelombang menghampiri pantai, ketinggiannya meningkat sementara kelajuannya menurun. Gelombang tersebut bergerak pada kelajuan tinggi, hampir tidak dapat dirasakan efeknya oleh kapal laut (misalnya) saat melintasi di laut dalam, tetapi meningkat ketinggian hingga mencapai 30 meter atau lebih di daerah pantai. Tsunami dapat menyebabkan kerusakan erosi dan korban jiwa pada kawasan pesisir pantai dan kepulauan. Sedangkan gelombang adalah getaran yang merambat. Selain radiasi elektromagnetik dan mungkin radiasi gravitasional, yang bisa berjalan lewat vakum, gelombang juga terdapat pada medium (yang karena perubahan bentuk dapat menghasilkan gaya memulihkan lentur), dimana mereka dapat berjalan dan dapat memindahkan energi dari satu tempat kepada lain tanpa mengakibatkan partikel medium berpindah secara permanen, yaitu tidak ada perpindahan secara massal, malahan setiap titik khusus berosilasi di sekitar satu posisi tertentu. Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin, lahan pertanian, tanah dan air bersih.

1. Thermonuclear Weapon yang mungkin disebarkan di palung Sumatera
Danny Hilman, peneliti LIPI Bandung, sebagai pakar gempa, bahwa gempa di Aceh diakibatkan/disebabkan oleh berbagai sumber bukan hanya dari satu titik, melainkan garis atau bidang yang mengarah ke utara hingga ke laut Andaman sepanjang 1.000 km. Berdasarkan data GPS, pulau Simeulue yang terletak paling dekat dengan sumber gempa terpindahkan sekitar 10 m secara lateral dan 2 m vertikal. Secara rata-rata, Sumatera sendiri mempunyai pergerakan 3 cm/tahun. Pak Danny juga menyebutkan ada kemungkinan perubahan di bawah permukaan sumatera akibat gempa Aceh ini. Diusulkan agar dilakukan pemeriksaan vulkanologi, terutama kandungan gas di setiap gunung api di Sumatera Utara dan sekitarnya.

2. H. Harni Arrasyid MK
Gempa berkekuatan 8,9 SR dengan patahan sepanjang 200 km diiringi gelombang tsunami raksasa yang menimpa Aceh, Sumatera Utara dan sejumlah negara di Asia Tenggara, Asia Selatan dan Afrika Timur 26 Desember 2004 tidak diragukan lagi merupakan bencana alam terdahsyat abad ini karena sangat eskalatif dan korban tewas sangat besar.

2.2 Penyebab Gelombang Tsunami
Gempa-gempa yang paling mungkin dapat menimbulkan tsunami adalah gempa yang terjadi di dalam laut. Kedalaman pusat gempa kurang dari 60 km, magnitudo lebih besar dari 6,0 skala Richter, serta jenis penyesaran gempa tergolong, sesar naik atau sesar turun.
Pasca bencana gempa dan gelombang tsunami di Nangroe Aceh Darussalam 26 Desember 2004, kata “tsunami” kini makin populer di Indonesia. Padahal sejak 1992 tsunami mulai dikenal masyarakat di negeri ini ketika terjadi bencana tsunami di Flores pada 12 Desember. Meski mulai dikenali, namun belum dipahami secara benar.
Menurut Dr. Nanang T. Puspito, dosen dan kepala laboratorium seismo-tektonik di jurusan geofisika dan meteorologi Institut Teknologi Bandung, dapat dimaklumi jika tsunami belum dipahami secara benar oleh masyarakat awam, karena tsunami sering disalah-artikan sebagai gelombang pasang. Padahal, sangat berbeda artinya. Ia menyebutkan gelombang pasang terjadi karena adanya gaya tarik bulan terhadap bumi, sedangkan tsunami berasal dari bahasa Jepang “tsu” dan “nami” yang arti harfiahnya adalah gelombang di pelabuhan atau pantai yang terjadi karena adanya gangguan impulsif pada ari laut akibat terjadi perubahan bentuk dasar laut secara tiba-tiba.
Nanang menyebut penyebab tsunami dapat berasal dari tiga sumber, yaitu gempa, letusan gunung api dan longsoran yang terjadi di dasar laut. Menurut dia, dari ketiga penyebab timbulnya tsunami itu, gempa merupakan penyebab utama. Besar atau kecilnya gelombang tsunami sangat ditentukan oleh karakteristik gempa yang menyebabkannya. Gempa-gempa yang paling mungkin dapat menimbulkan tsunami adalah gempa yang terjadi di dasar laut. Kedalaman pusat gempa kurang dari 60 km. Magnitudo lebih besar dari 6,0 skala Richter, serta jenis penyesaran gempa tergolong sesar naik atau sesar turun. Gempa-gempa semacam itu biasanya terjadi pada zona subduksi, zona bukaan dan zona besar.
Dikatakannya pula bahwa kecepatan penjalaran gelombang tsunami, berkisar antara 50 km sampai 1.000 km per jam. Pada saat mendekati pantai, kecepatannya semakin berkurang karena adanya gesekan dasar laut. Tetapi tinggi gelombang tsunami justru akan bertambah besar pada saat mendekati pantai. Ia menyebutkan gelombang tsunami mencapai ketinggian maksimum pada pantai berbentuk landai dan berlekuk seperti teluk dan muara sungai. Pada pantai semacam ini, tinggi gelombang tsunami dapat mencapai puluhan meter. Seperti gempa Flores tahun 1992 dengan magnitudo 6,8 SR secara teoritis akan menghasilkan gelombang tsunami setinggi satu sampai dua meter di episentrum gempa. Namun, pada saat tiba di pantai Flores, gelombang tsunami mencapai ketinggian maksimum sekitar 24 meter.
Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus. Misalnya ketika meletusnya gunung Krakatau, gerakan vertikal pada kerak bumi dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba yang mengakibatkan gangguan kesetimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami.
Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut dimana gelombang terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi gelombang tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai, tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan massa air. Saat mencapai pantai, tsunami akan merayap masuk daratan, jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer.
Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua. Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi mega tsunami yang tingginya mencapai ratusan meter.
Syarat terjadinya tsunami akibat gempa :
• Gempa bumi yang berpusat di tengah-tengah laut dangkal (0 – 30 km)
• Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 skala Richter
• Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun

2.3 Potensi tsunami di Indonesia
Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap tsunami, terutama kepulauan yang berhadapan langsung dengan pertemuan lempeng, antara lain barat Sumatera, selatan Jawa, Nusa Tenggara, utara Papua, Sulawesi dan Maluku serta timur Kalimantan. Tsunami di Indonesia pada umumnya adalah tsunami lokal, dimana waktu antara terjadinya gempa bumi dan datangnya gelombang tsunami antara 20 s/d 30 menit.
Berdasarkan katalog gempa (1629 – 2002) di Indonesia pernah terjadi tsunami sebanyak 109 kali, yakni 1 kali akibat longsoran (landslides), 9 kali akibat gunung berapi dan 98 kali akibat gempa bumi tektonik. Gempa yang menimbulkan tsunami sebagian besar berupa gempa yang mempunyai mekanisme fokus dengan komponen dip-slip, yang terbanyak adalah tipe thrust (Flores, 1992) dan sebagian kecil tipe normal (Sumba, 1977). Gempa dengan mekanisme fokus strike slip kecil sekali kemungkinan untuk menimbulkan tsunami.

Tanda-tanda akan datangnya tsunami di daerah pinggir pantai adalah :
a. Air laut yang surut secara tiba-tiba
b. Bau asin yang sangat menyengat
c. Dari kejauhan tampak gelombang putih/suara gemuruh yang sangat keras.
Tsunami terjadi jika :
a. Gempa besar dengan kekuatan gempa > 6,5 SR
b. Lokasi pusat gempa di laut
c. Kedalaman dangkal < 40 km
d. Terjadi deformasi vertikal dasar laut

Pembelajaran gempa dan tsunami 26 Desember 2004 memberikan pelajaran penting, betapa waktu singkat antara gempa besar sebelum gelombang tsunami datang. Sebagian masyarakat bertanya dengan polosnya mengapa tidak ada peringatan sama sekali dari pihak berwenang. Terlepas dari pengetahuan mereka bahwa gempa sampai hari ini belum ada ilmuwan yang mampu menentukan kapan suatu gempa akan terjadi, namun demikian tsunami yang terjadi setelah gempa dapat diprediksi sehingga pihak berwenang bisa memberi peringatan kepada masyarakatnya. Kejadian kesalahan gempa pada 3 Juni 2007 merupakan pelajaran yang berharga bagi kita semua.

2.3.1 Gempa berkekuatan 5,8 SR landa Aceh Singkil
Sebagian masyarakat di kota Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, Nangroe Aceh Darussalam, berhamburan keluar rumah akibat terkejut guncangan gempa bumi berkekuatan 5,8 pada skala Richter.
Kepala stasiun geofisika Mata Le, Banda Aceh, Syahran, menyebutkan gempa yang terjadi sekitar pukul 21.51 WIB itu berada pada koordinat 2,24 Lintang Utara (LU) – 97,88 Bujur Timur (BT). Lokasinya berada di desa Singkil Utara, sekitar 10 km tenggara ibukota Kabupaten Aceh Singkil. Gempa yang berada di kedalaman sekitar 62 km itu tidak dirasakan masyarakat di ibukota Banda Aceh dan Aceh Besar. Gempa tercatat pada alat pencatat gempa Mata Le berlangsung selama 6,5 menit. Salah seorang warga Singkil, Masyithoh, menyebutkan gempa tersebut cukup mengejutkan masyarakat, karena fenomena alam itu terjadi bersamaan dengan padamnya aliran listrik ke rumah-rumah penduduk. Sebagian warga berhamburan keluar rumah dalam kegelapan malam karena panik merasakan getaran gempa, namun suasana tenang kembali, setelah sebagian mereka melihat permukaan air laut masih normal. “Warga panik karena masih trauma dengan bencana tsunami yang melanda sebagian pesisir Aceh akhir tahun 2004”, katanya.
Dari data yang diperoleh dari kantor stasiun geofisika Mata Le, diketahui bahwa gempa susulan yang mengguncangkan wilayah Singkil itu merupakan gempa kuat ketiga di Aceh. Setelah pada 21 Juli lalu berkekuatan 5,0 SR mengguncang Takengon, ibukota Kabupaten Aceh Tengah, sedangkan pada 13 Juli 2007, gempa susulan juga menggucangkan wilayah pantai barat selatan Aceh. Gempa berkekuatan 4,8 SR itu berada di kedalaman 33 km, namun pusatnya sekitar 109 km sebelah barat daya kota Banda Aceh.

2.4 Korban Jiwa
Di Indonesia, gempa bumi mengakibatkan tsunami (gelombang pasang) yang menelan sangat banyak korban jiwa. Dipastikan lebih dari 150.000 jiwa tewas, puluhan gedung hancur oleh gempa utama, terutama di Meulaboh dan Banda Aceh di ujung Sumatera. Di Banda Aceh, sekitar 50% dari semua bangunan rusak terkena tsunami, tetapi kebanyakan korban disebabkan oleh tsunami yang menghantam pantai barat Aceh dan Sumatera Utara. Foto dari kerusakan sulit diperoleh karena ada pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka yang mengakibatkan sedikitnya jumlah reporter, pejabat pemerintah, dan tim penolong di sumatera Utara. Pejabat pemerintah khawatir akan kurangnya laporan dari kota-kota di pantai barat Sumatera, termasuk beberapa resort kecil. Kota-kota ini hanya berjarak 100 km dari episenter dan diperkirakan menerima kerusakan berat dan juga pulau Simeulue dan pulau Nias.
Dirancang sebagai media informasi tentang musibah tsunami di Samudera Hindia dahsyat tanggal 26 Desember 2004 lalu, khususnya yang terjadi di wilayah Aceh, sebagai kawasan bencana yang paling parah dengan korban tewas paling tinggi. Sekarang ini siapa saja yang datang di provinsi Aceh terutama ke Kotamadya Banda Aceh, kabupaten Aceh Besar, Aceh Barat, Aceh Jaya, Aceh Barat Daya, Pidie, Lhokseumawe dan kabupaten Aceh Utara dengan tujuan apa saja termasuk tsunami tour, tidak terlalu perlu harus banyak orang bercerita bagaimana saat gempa mengguncang atau dari mana tsunami datang, karena mereka masih bisa melihat sendiri kerusakan semua sendi kehidupan yang ditimbulkan kedua bencana alam tersebut.
Kecuali itu, sekarang ini hanya yang tidak terlihat lagi dengan mata kepala adalah korban yang hilang dan meninggal dunia karena yang meninggal dan ditemukan mayatnya sudah dikebumikan dalam berbagai kuburan massal. Data akhir yang diterima Suara Karya pada sekretariat Pemda Provinsi Aceh, 30 Juli 2005 menyebutkan lebih dari 234.271 penduduk Aceh tewas serta 165.729 orang hilang dan 150.000 rumah mereka hancur total akibat diguncang gempa serta diterjang tsunami pada Minggu, 26 Desember 2004 lalu. Sedangkan korban yang selamat namun sudah kehilangan sanak saudara dan harta benda masih berada di barak-barang pengungsi di seluruh Aceh. Belakangan dari 512.000 pengungsi itu hanya sebagian kecil mereka yang nekat pulang kembali ke bekas lokasi rumahnya dengan cara membuat pondok kecil atau tenda darurat. Tujuan mereka pulang juga beragam mulai dari tidak sanggup lagi hidup di barak-barak pengungsi yang berderet-deret. Setiap barak 12 kamar berukuran satu kamar 4 x 5 m dengan ketentuan huni satu kamar satu keluarga atau 5 orang. Juga supaya lahan bekas rumah mereka tidak hilang jejak atau beralih tangan.


2.4.1 Masih banyak korban tsunami Aceh yang belum ditemukan
Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan, masih banyak sekali korban yang meninggal dunia akibat diterjang badai tsunami di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) yang belum ditemukan. Para korban diduga masih banyak yang tertimbun reruntuhan bangunan yang belum bisa diidentifikasi petugas di lapangan, kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari di Kupang, Selasa (11/01). Dia mengemukakan jumlah korban yang meninggal dunia diperkirakan mencapai 150 ribu orang, tetapi sebagiannya belum ditemukan karena tertimbun reruntuhan bangunan.
Departemen Kesehatan, kata Menteri Supari, saat ini berkonsentrasi menangani para korban yang menderita sakit, karena jumlahnya banyak sekali, dengan membentuk posko-posko kesehatan. Selain membentuk posko-posko, juga menyiapkan pencegahan guna mengantisipasi meledaknya suatu wabah. “Sampai saat ini kita masih bersyukur karena wabah belum meledak, tetapi pasiennya banyak sekali, sehingga ada yang dievakuasi ke Medan, sekarang ke Pekan Baru karena Medan sudah penuh, kalau Pekan Baru penuh ke Batam,” katanya.

2.5 Dampak Tsunami Aceh di NTB
Salah satu desa dampingan P2KP yaitu Desa Lembar, Kecamatan Lembar Kabupaten Lombok Barat, NTB pada 26 desember 2004 lalu terkena dampak tsunami Aceh berupa gelombang air pasang setinggi 5 meter. Dalam peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa, namun sebanyak 20 rumah di pesisir pantai dan 9 bagan nelayan hanyut. Dari musibah tersebut, Pemda Lombok Barat mengambil langkah antisipasi dini dengan mengevakuasi sejumlah 1.045 jiwa penduduk atau sekitar 238 KK pada 27 Desember 2004 lalu.

Jumlah para pengungsi yang ditampung di gudang Dolog Pemda Lombok Barat sebanyak 645 jiwa serta 403 jiwa ditampung di workshop PU provinsi NTM. Masyarakat peduli sesama dan Pemda Lombok Barat menyalurkan bantuan pangan berupa beras, mie instan, air mineral dan bahan pangan lainnya. Personil P2KP juga menghimpun dana bantuan yang dikoordinir oleh team leader KMW 10 NTB, Asfan Syufainal serta Korkot 1 kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat, Hartatik. Dana tersebut telah disalurkan dalam bentuk bahan pangan berupa beras 20 kg, mie instan 10 dos dan sabun cuci 10 dos.
Pemetaan swadaya di desa tersebut telah dilakukan sebelum dampak tsunami datang memporak-porandakan lingkungan perumahan dan pemukiman penduduk. Kini, masalah yang paling prioritas adalah tidak terdapatnya jembatan penyeberangan sepanjang 20 meter yang menghubungkan dusun Cemara dengan desa induknya. Setelah musibah melanda, masyarakat dusun Cemara melalui tim PS telah mengajukan permohonan (kepada fasilitator) agar pemetaan swadaya diulang melalui rembuk masyarakat guna penetapan prioritas mendesak saat ini.
Gubernur NTB Lalu Serinata saat meninjau lokasi tersebut mengungkapkan kesediaannya guna membiayai pembangunan jembatan penyeberangan tersebut. Dukungan P2KP sebatas pada perbaikan lingkungan perumahan dan pemukiman yang berupa MCK dan SPAL. Sebanyak 1.043 orang pengungsi pada 3 Januari 2005 lalu telah dipulangkan di kampungnya di dusun Cemara, Desa Lembar oleh Pemda Lombok Barat. Sedangkan untuk 2 orang penduduk yang masih sakit, tengah dirawat di RSU Gerung Lombok Barat (Hartatik, Korkot 1 Lombok Barat dan kota Mataram) (www.google.co.id).


BAB III
PENYAJIAN DATA, ANALISIS DAN
PEMECAHAN MASALAH


3.1 Penyajian Data dan Analisis
Banyak kota-kota di sekitar Pasifik, terutama di Jepang dan juga Hawaii, mempunyai sistem peringatan tsunami dan prosedur evakuasi untuk menangani kejadian tsunami. Bencana tsunami dapat diprediksi oleh berbagai institusi seismologi di berbagai penjuru dunia dan proses terjadinya tsunami dapat dimonitor melalui perangkat yang ada di dasar atau permukaan laut yang terkoneksi dengan satelit.
Perekam tekanan di dasar laut bersama-sama dengan perangkat yang mengapung di laut (buoy) dapat digunakan untuk mendeteksi gelombang yang tidak dapat dilihat oleh pengamatan manusia pada laut dalam, sistem sederhana yang pertama kali digunakan untuk memberikan peringatan awal akan terjadinya tsunami pernah dicoba di Hawaii pada tahun 1920-an, kemudian sistem yang lebih canggih dikembangkan lagi setelah terjadinya tsunami besar pada tanggal 1 April 1946 dan 23 Mei 1960. Amerika Serikat membuat Pacific Tsunami Warning Center pada tahun 1949 dan menghubungkannya ke jaringan data dan peringatan internasional pada tahun 1965.
Salah satu sistem untuk menyediakan peringatan dini tsunami (REST Project) dipasang di pantai barat Amerika Serikat, Alaska dan Hawaii oleh USGS, NOAA dan Pacific Northwest Seismograph Network serta oleh tiga jaringan seismik Universitas. Hingga kini, ilmu tentang tsunami sudah cukup berkembang meskipun proses terjadinya masih banyak yang belum diketahui dengan pasti. Episenter dari sebuah gempa bawah laut dan kemungkinan kejadian tsunami cepat dihitung. Pemodelan tsunami yang baik telah berhasil memperkirakan seberapa besar tinggi gelombang tsunami di daerah sumber, kecepatan perjalanannya dan waktu sampai di pantai. Berapa ketinggian tsunami di pantai dan seberapa jauh rendaman air yang mungkin terjadi di daratan. Walaupun begitu, karena faktor alamiah, seperti kompleksitas topografi dan batimetri sekitar pantai dan adanya corak ragam tutupan lahan (baik tumbuhan, bangunan, dll) perkiraan waktu kedatangan tsunami, ketinggian dan jarak rendaman tsunami masih belum bisa dimodelkan secara akurat.

3.2 Pemecahan Masalah
Dari penyajian data dan analisis di atas maka disimpulkan bahwa salahsatu pemecahan masalah tsunami di Indonesia adalah diwujudkannya sistem peringatan dini di Indonesia.
Saat ini Indonesia sedang melakukan pekerjaan pembangunan sistem peringatan dini tsunami. Salah satu proyek yang dikerjakan adalah kerjasama dengan negara Jerman. Proyek ini bernama GITEWS (Germany Indonesia Tsunami Early Warning System). Ada 3 pilot area yang dipilih untuk pelaksanaan proyek ini yaitu kota Padang, Jawa Tengah (Cilacap, Kebumen dan Bantul) serta Bali (Kab. Badung). Pengembangan sistem peringatan dini tsunami ini melibatkan banyak pihak dan instansi pemerintah. Sebagai koordinator dari pihak Indonesia adalah kementerian Ristek (Riset dan Teknologi). Sedangkan instansi yang ditunjuk dan bertanggung jawab untuk mengeluarkan Info Gempa dan Peringatan Tsunami adalah BMG (Badan Meterologi dan Geofisika). Tujuan utama pembangunan sistem peringatan dini tsunami ini adalah untuk terciptanya sebuah sistem yang dapat menginformasikan serta memperingatkan masyarakat luas apabila terjadi suatu gempa yang berpotensi tsunami dalam waktu sesingkat-singkatnya agar kerugian nyawa dan materi dapat dihindarkan semaksimal mungkin.

Cara kerja :
Sebuah sistem peringatan dini tsunami adalah merupakan rangkaian sistem kerja yang rumit dan melibatkan banyak pihak secara internasional, regional, nasional, daerah dan bermuara di masyarakat.
Apabila terjadi suatu gempa, maka kejadian tersebut dicatat oleh alat seismograf (pencatat gempa). Di lautan, peralatan-peralatan elektronis juga mencatat serta merekam data-data dasar serta permukaan laut. Data-data tersebut kemudian dikirim melalui satelit ke kantor-kantor yang berwenang (untuk Indonesia bernama BMG) selanjutnya BMG akan mengeluarkan info gempa yang disampaikan melalui peralatan teknik secara simultan. Cara penyampaian info gempa tersebut untuk saat ini adalah melalui SMS, faksimile, telepon, email, RANET (radio internet) FM RDS (radio yang mempunyai fasilitas RDS/radio data system) dan melalui website BMG (www.bmg.go.id). Apabila gempa tersebut telah memenuhi syarat atau kondisi terjadinya tsunami maka BMG akan mengeluarkan peringatan awas tsunami. Artinya, gempa tersebut berpotensi untuk menimbulkan tsunami. Untuk jenis peringatan ini maka pemerintah mengeluarkan isu evakuasi. Untuk kategori awas tsunami ini, Pemerintah Daerah mempunyai kewenangan untuk membunyikan sirine yang berarti Lakukan evakuasi !
Peringatan awas tsunami ini juga akan secara otomatis ditampilkan melalui mass media elektronik TV dan radio.
Pengalaman serta banyak kejadian di lapangan membuktikan bahwa meskipun banyak peralatan canggih yang digunakan, tetapi alat yang paling efektif hingga saat ini untuk sistem peringatan dini tsunami adalah RADIO. Oleh sebab itu, kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan tsunami, diminta untuk selalu siaga mempersiapkan RADIO FM untuk mendengarkan berita peringatan dini tsunami. Alat lainnya, yang juga dikenal ampuh adalah radio komunikasi antar penduduk, organisasi yang mengurusnya adalah RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia). Mengapa radio? Jawabannya sederhana, karena ketika gempa seringkali mati lampu, tidak ada listrik, radio dapat beroperasi dengan baterai. Selain itu karena ukurannya kecil, dapat dibawa kemana-mana (mobile), radius komunikasinya pun relatif cukup memadai.


BAB IV
PENUTUP


4.1. Kesimpulan dan Saran
Dari hasil pemaparan karya ilmiah ini dari awal hingga akhir, sebagai uraian penutup kiranya penulis perlu memberikan beberapa langkah kongkret yang dapat kita lakukan saat daerah kita dilanda tsunami. Adapun langkah-langkah tersebut antara lain :
a. Saat Tsunami Datang
1. Jangan panik
2. Jangan menjadikan gelombang tsunami sebagai tontonan. Apabila gelombang tsunami dapat dilihat, berarti kita berada di kawasan yang tidak aman.
3. Jika air laut surut dari batas normal, tsunami mungkin terjadi.
4. Bergeraklah dengan cepat ke tempat yang lebih tinggi, ajaklah keluarga dan orang di sekitar turut serta tetaplah di tempat aman sampai air laut benar-benar surut. Jika Anda sedang berada di pinggir laut atau dekat sungai, segera berlari sekuat-kuatnya ke tempat yang lebih tinggi. Jika memungkinkan, berlarilah menuju bukit yang terdekat.
5. Jika situasi memungkinkan, pergilah ke tempat evakuasi yang sudah ditentukan.
6. Jika situasi tidak memungkinkan untuk melakukan tindakan seperti di atas, carilah bangunan bertingkat yang bertulang baja (ferroconcrete building), gunakan tangga darurat untuk sampai ke lantai yang paling atas (sedikitnya sampai ke lantai 3).
7. Jika situasi memungkinkan, pakai jaket hujan dan pastikan tangan Anda tidak membawa apa-apa.
b. Sesudah Tsunami
1. Ketika kembali ke rumah, jangan lupa memeriksa kerabat satu persatu.
2. Jangan memasuki wilayah yang rusak, kecuali setelah dinyatakan aman.
3. Hindari instalasi listrik.
4. Datangi posko bencana untuk mendapatkan informasi. Jalinlah komunikasi dan kerja sama dengan warga sekitar.
5. Bersiaplah untuk kembali ke kehidupan yang normal.

4.2. Penutup
Penulis mengucapkan puji syukur sebesar-besarnya kepada Allah SWT yang telah memberikan taufik serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan paper yang berjudul “SEBAB TIMBULNYA GELOMBANG TSUNAMI YANG MENDERA MASYARAKAT ACEH”, sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Saya sebagai penulis sangat menyadari bahwa dalam penulisan paper ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, baik dari segi penyajian data dan sebagainya. Oleh karenanya penulis masih mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan paper ini.
Akhirnya hanya keridhoan Allah SWT yang penulis dambakan, semoga rahmat dan hidayah-Nya senantiasa dilimpahkan kepada kita semua. Semoga paper yang penulis sajikan ini memberikan manfaat buat semua pembacanya. Amin ya robbal alamin.


DAFTAR PUSTAKA


Moch. Ma’ruf Tanudjaja. 1995. Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa. Jakarta : Balai Pustaka.
Anonim. 1987. Atlas Geografi Indonesia dan Dunia. Jakarta : Pustaka Ilmu.
http://www.google.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar